Weblog Kanker Payudara

KETIKA KANKERKU BERMETASTASIS LAGI

Posted on: November 19, 2009

Anakku yang terkecil main kursi roda

Bulan November 2008 adalah jadwal saya untuk evaluasi kanker, yang meliputi Bone scanning, photo thorax, USG payudara dan abdomen, MRI kepala dan cek CA15.3 Hasilnya adalah semuanya bersih. Saya bersyukur, dan evaluasi ini akan diulangi lagi 6 bulan kemudian, berarti jatuh pada bulan Mei 2009.Maka saya dan suami merencanakan bulan Desember akan berlibur ke rumah kakak di Bali. Alangkah senangnya anak-anak saya. Mereka senang karena ibunya lepas terapi dan mereka akan beramai-ramai dengan beberapa sepupunya berlibur ke Bali.

Ketika tiba waktunya, kami beramai-ramai 12 orang berangkat ke Bandara Sukarno-Hatta menuju Bali. Berhubung tulang-tulang belakang saya sudah banyak yang terkena kanker, maka nasehat dokter Radiolog Onk. untuk menggunakan kursi roda apabila jalan jauh saya ikuti. Saya pikir nggak ada salahnya, khan. Malahan kalau di Bandara saya masuk ke pesawat duluan dibanding penumpang lain. Yang penting saya bisa bersama anak dan suami. Anak saya yang paling kecil senang sekali, malahan dia ngajak saya bermain dengan kursi roda didorong kesana-kemari.

Tiba di Bali kami dijemput kakak dan suaminya yang telah tiba duluan menuju kerumahnya didaerah Pecatu dimana orang sering bilang nama daerahnya adalah Dreamland. Memang rumah itu hanya untuk berlibur, hari biasa hanya ditunggui pembantu. Maka dimulailah liburan anak-anak itu dengan bersih-bersih dulu.. Kami tujuh hari disana. Alhamdulillah, itu merupakan tujuh hari yang menyenangkan.

Bulan Maret 2009, tiba-tiba saya nerasa leher sering ada dahak, padahal saya tidak batuk. Dan kalau bernafas dileher seperti ada gelembung air kecil. Tapi saya nggak perhatikan saya pikir gejala batuk. Awal April 2009 tiba-tiba saya tidak bisa mengucapkan huruf ”R” dengan jelas, saya agak khawatir, tapi biasanya metastasis kanker ke otak tanda-tandanya tidak seperti itu. Tapi saya tetap berangkat konsultasi ke dokter Hematolog Onk. Yang merawat saya. Lalu beliau melakukan beberapa test dan menanyakan perkalian, yang saya bisa jawab dengan baik. Beliau bilang nggak apa-apa.

Pada suatu hari ibu saya melihat perut saya dan beliau bertanya apakah saya hamil? Tentu saja saya jawab tidak, ngurus badan yang kena kanker saja repot koq hamil. Tapi beliau bilang perut saya besar dan nggak wajar. Akhirnya saya kembali ke dokter Hematolog Onk. Dan minta dibuatkan pengantar untuk MRI kepala, dada dan abdomen, saya pilih MRI karena lebih murah dibanding CT-scan.

Dari hasil MRI ketahuan bahwa telah ada metastsis kanker payudara saya diotak kecil sebelah kanan, paru-paru dan lever. Subhanallah, cepat sekali, pada bulan November 2008, saya bersih sekarang sudah ada dibeberapa tempat. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, Kita semua dan apapun yang kita miliki semua adalah milik Allah SWT dan semua akan kembali kepadaNya.Engkau maha tahu, ya Allah, saya ikhlas dan bertawakal. Terkejut ada, tapi marah tidak. Saya yakin Allah akan selalu bersama saya, melindungi dan memberi kekuatan sepanjang hidup saya, tugas saya adalah berikhtiar hasil akhir Allah yang menentukan.  Saya yakin diujung perjalanan ini akan ada rewards dariNya. Dia tak akan menyia-nyiakan hambanya.Saya bersyukur telah melewati hari-hari yang menyenangkan bersama anak dan suami. Sekarang adalah “ it’s time for therapy” again. Saya hindari kata cape, bosan berobat apalagi putus asa, karena akan mempengaruhi semangat saya dan Allah tidak akan suka pada hambanya yang tidak bersabar dan putus asa. Goal saya, Insya Allah apabila Allah mengijinkan ingin mengantar anak-anak hingga dewasa & menikah.

Akhirnya team dokter memutuskan untuk chemotherapy lagi. Ketika anak saya yang paling kecil ( sekarang 9 thn ) saya beritahu bahwa saya akan terapi lagi, komentarnya adalah, “berarti ibu botak lagi, dong”. “Kapan ibu nggak botak?”. Saya jawab bahwa “ Nggak apa-apa, nak ibu botak, yang penting khan selalu menemani kamu dan kakak. Lagian ibu malahan ngirit shampoo”. Saya peluk dia. Memang dari umur 4 thn dia selalu saya tinggal untuk berobat, banyak hari-hari saya sebagai ibu yang hilang untuk dia. Tapi Alhamdulillah, suami saya bisa berperan sebagai ibu juga. Terutama untuk anak saya yang paling kecil. Malahan disekolah SDnya, ayahnya lebih dikenal oleh ibu-ibu disana.

Chemo kali ini menggunakan GEMZAR 3200 mg dan CYSPLATIN 40 mg pemakainnya adalah minggu I GEMZAR 1600  + CYSPLATIN 40 mg, 1 minggu kemudian chemo dengan dosis yang sama. Libur 2 minggu, kemudian langkah –langkah seperti diatas diulang lagi. Jadi chemo 6 cycle tapi dibagi 2 sehingga menjadi 12 cycle.

Pada tanggal 2 Juni 2009, saya dipanggil oleh dokter Radiology Onk. Saya yaitu Prof. Tati, beliau bilang seharusnya tumor diotak saya juga harus diterapi sekalian agar tidak keburu membesar. Mumpung ukurannya baru 2.5 cm, akan dilakukan dengan cara SRS ( STEREOTATIC RADIO SURGERY ). Berhubung side efek chemo kali ini cukup berat untuk saya yaitu biasanya hanya leukosit saja yang turun itu juga Cuma menjadi 2000  10³/µL-an. Tapi chemo kali ini leukosit saya sering hanya 800 10³/µL, Trombosit hanya 15000 10³/µL , HB. 8 g/dL cukup merepotkan sehingga saya istirahat total tidak kerja. Untuk itu tugas dokter Hematolog Onk. ( Prof. Zubairi ) untuk menaikkan dulu parameter-parameter darah saya sehingga siap dilakukan SRS. Tanggal 10 Juni 2009 saya menghadap Dokter Radiolog Onk lagi, dan tanggal 11 Juni 2009 saya diminta menemui Dr. Nanda ( ahli bedah syaraf? ) di RSCM untuk membicarakan rencana SRS saya. Dengan ditemani suami, pada tanggal itu saya bertemu Dr. Nanda di Dept. Radioterapy RSCM. Beliau menjelaskan step-step pelaksanaan SRS. Saya dan suami siap apapun yang akan dilakukan terhadap saya. Maka ditentukan tanggal terapinya yaitu 18 Juni 2009.

STEREOTIC RADIO SURGERY atau SRS adalah alat baru di RSCM, belum ada 1 tahun. Dan saya pada saat itu adalah pasien ke 17 yang akan dilakukan SRS. Bedanya dengan Radioterapy biasa, kalau SRS hanya dilakukan 1 hari penyinaran dengan dosis tinggi, langsung pada titik tumornya, tanpa pembedahan, dan jaringa sehat otak yang terkena juga lebih minimal. Sehingga diharapkan side efeknya juga minimal. Sedangkan Radioterapy biasa, biasanya sampai 25 kali atau 30 kali. Dan area sekitar kepala terlihat gosong menghitam, berarti mengenai area yang cukup luas.

PENJELASAN GAMBAR  PROSES AWAL SRS :

  1. Dahi ( kepala ) dibersihkan untuk persiapan suntik obat bius
  2. Dokter menyetel dulu kelurusan mask
  3. Setelah lurus disetel lewat lubang telinga, lalu didahi ditandai dengan spidol.
  4. Dilakukan penyuntikan obat bius di 4 titik kepala ( 2 didahi, 2 dikepala belakang )
  5. Setelah itu, 4 buah baut dipasang dikepala untuk menggantung mask

Dalam proses SRS memang lebih baik apabila kepala dibotakin, agar lebih mudah dalam membuat titik untuk pasang baut

Bagaimanapun keadaan saya, saya sangat bersyukur bahwa ketika metastasiske otak itu terjadi pada saya, alat itu sudah ada di RSCM. Memang biayanya untuk ukuran saya sangat mahal, tapi sekali lagi, atas bantuan Prof Tati saya mendapat kemudahan dalam segala hal. Saya sangat bersyukur untuk hal ini. Beliau yang merawat saya hampir 5 tahun sangat tahu keterbatasan dana saya untuk berobat, dan untuk seluruh pengobatan saya kali ini, total dibantu adik dan kakak. Maka semua biaya mereka rundingkan bersama. Alhamdulillah saya punya saudara yang sangat baik. Dan keluarga lainpun yang tidak bisa membantu biaya, mereka membantu tenaga, menjaga anak-anak, keponakan ada yang membantu belajar anak-anak saya. Bagaimana saya tidak bersyukur atas karunia Allah ini?. Saya selalu melihat fase-fase kehidupan saya dari sisi baiknya saja sehingga selalu optimis dan tidak mudah berputus asa.

Tibalah tanggal 18 Juni itu, dengan sedikit deg-degan saya diantar suami menuju Dept. Radioterapi RSCM ketika itu jam menunjukkan pukul 9.00 pagi. Jam 10.00, Dr. Nanda datang, lalu melihat data-data darah saya yang sudah naik semua. Langsung beliau bersama 2 dokter radiology dan 2 orang suster membawa saya, yang bajunya sudah suster ganti dengan baju rumah sakit ke bagian luar ruamg CT-scan. Disitu ada ruang yang cukup luas, dan saya didudukkan di sebuah kursi roda khusus, bentuknya tidak sama dengan kursi roda biasa agak tinggi. Kemudian Dr. Nanda dibantu oleh 2 dokter radiologi mengukur kelurusan benda semacam topeng besi yang akan dipasangkan dikepala saya melalui lubang telinga setelah pas lalu dahi kiri dan kanan kepala belakang kiri dan kanan ditandai dengan spidol. Setelah itu, mulailah dokter menyuntik obat bius di keempat titik dikepala tadi. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya disuntik dikepala, saya menggenggam kencang tangan suami dan suster sambil tak henti-hentinya berzikir hingga tidak terfokus pada rasa sakit. Tidak berapa lama kata suami, keempat lokasi titik yang disuntik tadi membengkak lalu dokter memasang baut dititik-titik tadi kemudian topeng besi digantungkan dibaut-baut yang sudah terpasang  dan dikencangkan melalui daun telinga, gunanya agar kepala saya tidak bergerak / bergeser ketika dilakukan tindakan ( CT-Scan dan SRS ) rasanya kepala sangat berat karena memakai topeng besi. Saya seolah seperti Dr. Hanibal dalam film SILENT OF THE LAMB.

Kemudian dilakukanlah CT-Scan, untuk meletakkan kepala di meja CT-Scanpun saya kesulitan karena beratnya topeng. Jadi harus dibantu suster dan dokter. Selama proses ini, dokter saya Prof. Tati yang datang bersama wakilnya Dr. Sri Mutia selalu memberi semangat saya. Setelah CT-Scan selesai, saya dibawa keruangan semula, untuk menunggu perhitungan teknisnya guna penyinaran dan tetap duduk dikursi roda dan kepala saya disangga oleh beberapa bantal dan busa agar tidak keberatan, disini saya merasa pusing karena mata saya khan minus 5 dan tidak bisa pakai kaca mata karena dipasang topeng. Disini dokter saya melihat, maka beliau memerintahkan agar hasil CT-Scan dibawa secepatnya ke ruang fisika untuk dihitung dan hanya diberi waktu tidak sampai 2 jam. Kira-kira jam 14.00 saya dijemput suster untuk masuk ke ruang SRS. Kemudian saya dibaringkan dimeja SRS, dan mulailah proses SRS itu  yang dilakukan sendiri oleh Prof. Tati. Waktunya 45 menit. Ketika selesai saya dibawa keruang pemulihan, disitu Dr. Nanda sudah menunggu untuk melepas topeng serta baut-baut dikepala. Bekasnya berupa lubang-lubang kecil yang berdarah. Lalu suster memberikan Sufratul dan diplester dikeempat lubang tadi. Dengan kursi roda biasa, saya kemudian dibawa ke kamar perawatan biasa, dan diberi obat penghilang rasa sakit dan antibiotic. Alhamdulillah setelah proses SRS saya tidak mengalami side efek apapun seperti muntah atau pusing yang berlebihan sehingga esok harinya saya diperbolehkan pulang.

Gambar diatas semua adalah penjelasan setelah mask dipasang, kemudian proses CT-Scan untuk menentukan titik koordinat tumor , yang kemudian digambar ulang oleh bagian Fisika, untuk menentukan titik penyinaran.

Selama menunggu proses di R. Fisika, saya didudukkan di kursi roda khusus diganjal dengan bantal dan busa, untuk mengurangi beratnya mask. Setelah proses di R. Fisika selesai ( kurang lebih 2 jam ) saya dibawa di R. SRS

Seminggu kemudian, saya melanjutkan chemo lagi, hingga chemo terakhir pada tanggal 28 Agustus 2009. Berhubung setelah chemo parameter-parameter darah saya turun,dimana pada bulan September seharusnya  saya melakukan MRI untuk mengevaluasi pengobatan-pengobatan yang saya terima, tapi tidak saya lakukan dulu. Saya istirahat.

Pada bulan Oktober 2009 barulah saya melakukan MRI. Saya dan suami siap menerima apapun hasilnya. Dan ternyata hasilnya memang kurang bagus. Hanya pada paru-paru yang menunjukkan kemajuan yang cukup baik, lever tidak. Dan pada otak kanan meskipun tumor yang di SRS hancur, tapi ternyata didekatnya tumbuh tumor kecil lagi.

Hasil ini kemudian saya bawa ke Dokter Hematolog Onk. , dan beliau agak kecewa juga dengan hasilnya, dan minta agar berkas-berkas saya dikirim ke RSCM untuk dirapatkan dengan dokter-dokter Hematolog yang lain. Begitu pula dengan dokter Radiolog Onk. ketika saya datangi di RSCM beliau kelihatan sedih melihat hasil MRI saya, kemudian beliau juga memutuskan akan dibawa dalam rapat.

Hasil rapat dari ke dua dokter saya adalah saya harus chemo ulang. Untuk ini saya belum memutuskan. Sedangkan Prof. Tati menjelaskan bahwa saya juga harus melakukan SRS lagi, tapi penentuan lokasi penyinarannya agak rumit karena sangat berdekatan dengan bekas SRS yang lama. Memerlukan waktu kira-kira 12 hari untuk menentukannya. Selama waktu menunggu SRS tersebut saya berunding dengan suami, apakah saya  akan melakukan chemo sistemik lagi. Sedangkan alarm tubuh saya mengatakan belum siap. Sehingga dengan berdoa mohon petunjuk Allah hati kami cenderung melakukan SRS saja sedangkan chemo akan saya ganti dengan TACI ( Trans Arteri Chemotherapy). Saya focus ke SRS dulu. Selama menunggu SRS, paru-paru saya juga dibuang cairannya sebanyak 1200 cc  karena saya mulai sesak nafas.

Ketika  suami menghadap Prof. Tati untuk menentukan hari SRS yang ke2 kali ,beliau tahu benar kesulitan-kesulitan  kami.  Dengan segala bantuan beliau saya akhirnya dapat melakukan SRS lagi. Kali ini memakan waktu 1jam 25 menit, karena dilakukan dalam 2 posisi yang berbeda guna menghindari bekas SRS sebelumnya. SRS ke2  ini rasanya sangat kecapean, tapi Alhamdulillah bisa berjalan lancar dan esoknya bisa pulang. Saya sangat bersyukur dengan kebaikan hati dokter-dokter yang merawat saya ini. Saya istirahat 1 minggu, baru kemudian menghadap Prof. Zubairi dokter Hematolog Onk. Saya utarakan keberatan saya apabila harus chemo sistemik  lagi, dan juga saya katakan bahwa saya sadar bahwa TACI untuk pasien kanker yang kondisinya seperti saya pada teorinya memang tidak cocok. Karena TACI termasuk pengobatan kanker secara local bukan sistemik. Berhubung saya ingin melanjutkan terapi, maka saya pilih TACI karena side efeknya sangat minimum, dimana obat chemo langsung masuk kedalam lokasi tumor, melalui pembuluh arteri. Dokter saya sangat memahami pilihan saya ini dan beliau mengucapkan semoga berhasil karena semua adalah atas izin Allah. Saya memang perlu pamit untuk  beralih ke TACI, karena hampir lima tahun team dokter JBC lah yang merawat saya hingga saya mencapai kwalitas hidup yang Alhandulillah baik, mengingat saya adalah pasien stadium akhir yang kankernya sudah metastasis ketika pertama kali berobat ke JBC yang tentu saja yang utama adalah karena izin dan karunia Allah SWT. Memang sudah merupakan kebiasaan saya dalam berobat selalu melakukan diskusi dengan para dokter yang merawat. Saya tidak pernah konsultasi satu arah dimana semuanya saya serahkan pada para dokter tapi saya selalu bertanya mengapa diambil langkah begitu, mengapa begini dan saya usul kalau begini bagaimana akibatnya.

Untuk melakukan TACI, saya memilih RSPAD Gatot Subroto, harapan saya karena rumah sakit ini rumah sakit tentara, Insya Allah lebih disiplin dan tentu saja tidak mahal.

Mulailah saya yang kali ini diantar kakak ipar menemui Dr. Terawan untuk mendiskusikan pengobatan saya ini, ketika melihat MRI saya, beliau geleng-geleng kepala dan katanya sakit perut. Memang Dr. Terawan orangnya sangat ramah dan apa adanya. Buat saya itu menyenangkan karena tidak serius. Beliau kemudian meminta saya untuk melakukan CT-Scan untuk thorax dan abdomen atas. Alasan beliau kalau lewat MRI tidak bisa ditentukan pembuluh-pembuluh yang dibuat kanker ( kanker itu seperti benalu bisa membuat pembuluh darah sendiri untuk menyedot makanan induknya ) dan pembuluh arteri yang besar. Kebetulan ketika saya datang konsultasi itu, beliau besoknya akan keluar negeri selama 1 minggu. Selama itu saya diserahkan pada dokter ahli penyakit dalam yang mengkhususkan pada lever yaitu Dr. Ruswandi. Hari itu juga kami menghadap kesana dan diberi beberapa jenis obat untuk menstabilkan SGPT saya yang cukup tinggi.

Ketika Dr. Terawan sudah pulang saya menghadap lagi, dan ingin segera di TACI. Dan beliau berkata bahwa sebenarnya beliau tidak mau men TACI saya dalam waktu dekat ini, setelah pengobatan yang bertubi-tubi, apakah saya kuat?. Saya meyakinkan beliau bahwa Insya Allah saya kuat. Lalu diputuskan untuk TACI pada tanggal 28 Oktober 2008 jam 11.00 siang. Yang diTACI adalah bagian lever dulu Obat chemo yang dipakai adalah CARBOPLATIN. Pelaksanaannya memakan waktu kira-kira 1jam 30 menit, dan karena saya baru pertama kali melakukan TACI, maka saya menginap di Rumah Sakit selama 2 hari. Untuk TACI berikutnya akan dilakukan 1 bulan lagi. Semoga Allah memberikan kekuatan dan mujizat kesembuhan. Sayang ketika pengobatan TACI adik saya tidak bisa membantu karena dia juga harus membantu pengobatan iparnya. Sehingga agak gamang juga saya untuk biaya  pengobatan TACI ke-3 dan berikutnya,untuk pengobatan ke 2 sudah dibantu kakak. Selama berobat ini saya memutuskan untuk full tidak bekerja, sedang kami berwiraswasta sehingga dana kami sangat terbatas. Semoga Allah membukakan jalanNya bagi kami.

Peralatan-peralatan TACI yang baru, di RSPAD Gatot Subroto

Kadang saya terharu dengan pembicaraan anak-anak. Ketika saya sedang berkumpul dengan anak-anak dirumah, sering anak saya yang paling kecil ingin jalan-jalan dengan ibunya karena selama hampir 7 bulan lebih dia tidak pernah pergi dengan saya. Katanya” ibu, aku ingin jalan-jalan kemana saja ibu suka asal perginya sama ibu”. Saya jawab, bahwa” Kali ini belum bisa karena ibu harus mengobati paru-paru dan lever dulu, doain ibu dalam sholat,ya”. katanya lagi,” Kalau kursi roda ibu sudah jelek, suruh ayah beli ke Singapore biar dapat kursi roda yang tinggal pencet, jadi ibu nggak cape.” Saya sangat terharu dengan kata- kata anak saya. Semakin semangat saya untuk berobat dan bertahan demi mereka. Saya ingin menunjukkan pada anak-anak saya bahwa dalam keadaan apapun jangan mudah menyerah, mengeluh atau marah. Karena hanya akan melemahkan diri sendiri. Ibu akan terus maju kedepan hingga Allah menghentikan langkah ibu,nak.

10 Tanggapan to "KETIKA KANKERKU BERMETASTASIS LAGI"

dear mbak danty,
Lama ya nggak kontak mbak. Makasih ya atas saran mbak wkt itu agak aku segera sinar. Aku juga msh berjuang. Aku lg di rscm nunggu dr sambil duduk di kursi roda, aku ingin tahu kabar mbak jadi mampir ke blog mbak. We’re the chosen one. Keep on fighting …! InsyaAllah ikhtiar maksimal kita mendapat ridha-Nya. Doaku untukmu.

Hallo,hallo apa khabar Sari, kangen nih. Sekarang saya lagi chemo dengan cara TACI di RSPAD. Mungkin TACI lagi akhir bulan. Iya,ya keep fighting. Wassalam

Sy salut membaca semangat mbak… Smoga mbak cepat sembuh amin

halo mbak Danty..
bagaimana kabarnya sekarang? pasti lebih baik dari kemarin.
saya kagum sekali dengan semangat perjuangan mbak
semoga kondisi cepat pulih ya.

Mbak Sima, Insya Allah. Terimakasih

Hallo Mbak Danti…
Mudah2an Allah memberikan yang terbaik untukmu ya… Aku yakin, Allah sangat sayang sama Mbak, begitu sayangnya sampai seolah2 ingin selalu berada di dekatmu karena kesabaran, kesolehan dan ketawakalanmu.
Kuat ya, Mbak.. Salam untuk suami tercinta yang selalu berada di sampingmu.
Wish Allah give solution of all your difficulty. Amin

terima kasih atas semua support & doanya

Mbak Danty, perjuanganmu luar biasa! sy ikuti blog ini dr 6 bln yll. Dan kebetulan kanker sy juga IHCnya Her2+ sama dgn mbak Danty, sy sedang menjalani kemoterapi. Membaca cerita mbak Danty memberi semangat yg besar bagi sy utk tetap berjuang sampai akhir. Sy hrs pakai Herceptin selama setahun. Mbak, dimana bisa dilakukan FISH test? Trimakasih ya utk inspirasi hidupnya…I know God loves you very much🙂

Aslmkm mbk Danty,

Saya ingin mengucapkan terima asih yang sebesar-besarnya atas informasi yang sangat berguna di blog ini. Semoga perjuangan Mbk yang luar biasa bisa menjadi pemicu semangat bagi kami, karena saat ini Ibu saya juga sedang dirawat krn kanker payudara.

Semoga Mbk segera pulih dan bisa mengisi blog ini lagi, amin…

Maaf, saya cuma mau kasih tahu bahwa rekan saya ada yang sembuh dari kanker dan penyakit yang lain yang cukup parah..

silahkan lihat testimonynya di :

http://www.facebook.com/home.php?#!/photo.php?pid=134377&id=100000908235647

semoga membantu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pita Pink

Pita Pink

Arsip Kankerpayudara

Blog Statistik (sejak Des'07)

  • 1,056,482 pengunjung

support by:

whiteshirt | media
%d blogger menyukai ini: