Weblog Kanker Payudara

Gemuk dan Kanker Payudara

Posted on: Februari 17, 2008

Berikut ini adalah tanya jawab antara dokter saya dan pembaca pada rubrik konsultasi kesehatan di koran Republika. Semoga bermanfaat

Gemuk dan Kanker Payudara

Assalamualaikum wr wb
Dokter Zubairi Yth,
Beberapa minggu yang lalu, sewaktu mengantar istri saya ke dokter untuk pengobatan kemoterapi, saya terkejut, kok rata-rata pasien yang berobat di Pusat Kanker Payudara berbadan gemuk. Bayangan saya selama ini kanker menggerogoti tubuh pasien sehingga badan pasien kurus sekali. Saya juga ingat, ketika menunggu diperiksa dokter untuk memastikan apakah benjolan pada payudara istri akibat kanker, saya lihat banyak wanita bertubuh gemuk di ruang tunggu. Namun, waktu itu saya pikir mereka sebagai pengantar keluarga seperti saya. Pertanyaan saya, apakah yang saya amati hanya faktor kebetulan, artinya sebetulnya pasien kanker payudara rata-rata kurus, kebetulan yang datang untuk kemoterapi waktu itu yang tidak kurus? Apakah ada upaya yang telah dibuktikan berhasil untuk mencegah timbulnya kanker payudara?
Terima kasih.

Kharis, Jakarta

Waalaikumussalam wr wb
Mas Kharis yang baik,
Mas Kharis memang pengamat yang baik. Gemuk apalagi obesitas (amat gemuk sekali) memang berisiko tinggi atau bahasa gamblangnya gemuk memudahkan munculnya kanker payudara. Apalagi bila gemuk yang muncul sesudah usia dewasa, atau bila gemuk terutama di pinggang. Obesitas yang terjadi pada wanita menopause terbukti berhubungan erat dengan munculnya kanker payudara. Sebuah penelitian yang menyertakan 424.168 wanita menopause menyimpulkan bahwa obesitas setelah menopause memudahkan timbulnya kanker payudara. Pada penelitian tersebut yang kemudian meninggal karena kanker payudara ada 2.852 orang.

Perhimpunan Kanker (Onkologi) Indonesia (POI) dan Perhimpunan Kanker Amerika (American Cancer Society) serta banyak perhimpunan kedokteran lain, merekomendasikan agar kita menjaga berat badan kita agar tetap normal sepanjang hidup kita, dan kita dianjurkan menghindari penambahan berat badan terlalu banyak.

Hasil sebuah penelitian besar yang dilaporkan tahun 2007, meneliti 4.021 wanita dengan kanker payudara di Wisconsin, Massachusetts dan New Hampshire bahkan mengungkapkan bila seseorang sudah terdiagnosis kanker payudara, dan menjadi gemuk atau mengalami kenaikan berat badan sesudah diagnosis, maka risiko kematian meningkat dibandingkan dengan yang berat badannya stabil.

Jadi, istri Mas Kharis juga perlu menjaga agar berat badan tidak naik, atau bila sekarang kondisinya gemuk (berapa berat badan dan tinggi badannya?) perlu menurunkan berat badan, agar upaya pengobatan sekarang ini berhasil lebih baik. Estimasi para peneliti tersebut, bahwa 30-50 persen kematian akibat kanker payudara pada wanita pascamenopause, berhubungan erat dengan gemuk dan obesitas.

Masalah kanker payudara, ternyata masalah yang besar. Data registrasi kanker rumah sakit menunjukkan, kanker payudara sebagai kanker yang paling sering ditemukan di Indonesia, melebihi kanker serviks (jalan lahir). Pusat Kanker Payudara Jakarta (Jakarta Breast Cancer) sampai sekarang telah menangani lebih dari 900 pasien kanker payudara dan lebih dari 10 ribu pasien dengan benjolan di payudara. Sekitar 13 persen benjolan payudara yang berobat, ternyata kemudian dipastikan kanker, artinya tidak semua benjolan payudara disebabkan kanker. Untuk Amerika, pada tahun 2007, diperkirakan ada 178.480 pasien baru kanker payudara, dan yang meninggal karena kanker payudara pada tahun 2007 ini 40.460 orang.

Angka kejadian (jumlah pasien) kanker payudara dapat ditekan dengan memperbaiki gaya hidup untuk memperbaiki faktor risiko, sedangkan angka kematian akibat kanker payudara dapat ditekan dengan menemukan dan mengobati kanker payudara pada tahap dini, khususnya dengan mamografi. Skrining dengan mamografi dapat menekan angka kematian kanker payudara sebesar 20-39 persen untuk wanita berusia 50-74 tahun, mengurangi 17 persen untuk wanita usia 40-49 tahun.

Faktor risiko atau faktor yang memudahkan timbulnya kanker payudara dapat dibagi dua kelompok. Yang pertama adalah gender, usia, riwayat keluarga, riwayat reproduksi, densitas payudara, riwayat penyakit payudara sebelumnya, ras, dan etnik. Faktor risiko kelompok pertama tidak bisa dimodifikasi, sebagai contoh bila kita wanita yang berumur 66 tahun, ya harus kita terima saja risiko tersebut. Untuk diketahui, kanker payudara terutama menyerang wanita (100 kali lebih sering daripada laki-laki) dan risiko meningkat pada umur 66 tahun (60 persen kanker payudara ditemukan pada usia 55 tahun ke atas). Wanita dan umur tidak bisa diubah.

Kelompok faktor risiko kedua, yang memudahkan timbulnya kanker payudara adalah gemuk, merokok, alkohol, jarang makan sayur, buah, jarang olahraga dan tidak menyusui. Menyusui, khususnya menyusui bayi sampai 1,5 atau 2 tahun terbukti mengurangi risiko kanker payudara. Gemuk sudah dibahas di awal jawaban surat.

Kebiasaan minum alkohol, jelas terbukti meningkatkan risiko kanker payudara. Minum alkohol sekali sehari meningkatkan risiko, apalagi bila minum 2-5 kali sehari maka risiko meningkat 1,5 kali dibandingkan dengan yang tidak minum alkohol. American Cancer Society menganjurkan kita agar amat membatasi minum alkohol.

Olahraga atau berjalan cepat juga sangat baik. American Cancer Society menganjurkan kita berolahraga 45 sampai 60 menit setiap hari, paling tidak lima kali seminggu. Dahulu hanya olahraga yang agak berat (jogging, tenis, aerobik) yang dianggap mengurangi risiko kanker payudara, sekarang terbukti dari hasil penelitian, bahwa olahraga ringan, misalnya berjalan cepat (bukan berjalan santai, bukan window shopping) setengah jam sehari, juga berenang dan naik sepeda mengurangi risiko kanker payudara sebesar 20 persen.

Untuk diet, yang dianjurkan adalah makan buah dan sayur masing-masing tiga kali sehari, buah apa saja yang matang dan sayur apapun boleh. Untuk membiasakan kita makan sayur dan buah, tentu harus tersedia di rumah. Singkirkan kentang goreng, singkong, kue-kue, tart dari meja makan atau di samping televisi. Ganti dengan menyediakan papaya, pisang, jambu, apel, mangga atau buah apapun di tempat yang mudah dijangkau. Sayur bisa kita makan dalam bentuk lalap, gado-gado, pecel, karedok, sup ataupun dibuat jus.

Bila ingin makan kentang atau singkong atau mi baso, tentu saja boleh, tetapi sebaiknya di meja makan, pada jam makan, menggantikan makan nasi. Batasilah makan karbohidrat, lemak dan garam. Jadi, dapat disimpulkan bahwa gemuk memudahkan kanker payudara timbul. Kita perlu menjaga agar berat badan kita normal, sepanjang hayat. Untuk yang sudah telanjur gemuk atau obesitas, upayakan agar berat badan turun. Namun yang lebih penting, mulailah dengan olahraga teratur, atau paling tidak setiap hari lima kali seminggu, berjalan cepat selama setengah jam setiap hari.

Upaya-upaya tersebut berlaku untuk semua wanita agar tidak kena kanker payudara, juga untuk istri Mas Kharis dan pasien kanker payudara agar pengobatan lebih berhasil. Selain itu, berlaku pula untuk Mas Kharis dan kita semua agar tidak kena kanker, stroke, jantung koroner. Upaya yang dibahas di atas, sudah dibuktikan berhasil di negara-negara maju, agar kita tetap sehat pada usia 73 tahun, Insya Allah.

( )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pita Pink

Pita Pink

Arsip Kankerpayudara

Blog Statistik (sejak Des'07)

  • 1,056,482 pengunjung

support by:

whiteshirt | media
%d blogger menyukai ini: